oleh

Sibuk Urus Wisata Swasta, Disparbud KBB Belum Lirik Wisata Lain di Padalarang, Ini dia Gunung Puter

Padalarang, BANGBARA.COM. – Kondisi libur panjang pada beberapa hari yang lalu di akhir Oktober 2020, membuat membludaknya Wisatawan dalam dan luar kota berbondong-bondong menuju Wisata di Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Volume jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten ini naik dari 20 hingga 30 persen. Kondisi ini terjadi karena KBB memang terkenal sebagai Kabupaten yang kaya akan Wisatanya.

Sejak dibukanya akses wisata meski dengan menggunakan protokol kesehatan, nampak juga para wisatawan banyak yang tidak menggunakan masker saat di salah satu lokasi Wisata di Lembang.

Asyik dengan suasana wisata swasta yang sangat ramai, Pemda KBB melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) KBB seperti belum mulai menyadari bahwa banyak akses wisata yang dapat dikembangkan.

Salah satunya sebuah potensi wisata di Padalarang, salah satu Kecamatan yang dibilang sebagai pusat perkotaan di KBB ini, memiliki potensi wisata yang tidak kalah menarik.

Salah satu sudut pemandangan di Gunung Puter, Desa Jayamekar, Kecamatan Padalarang, KBB. (foto: istimewa).
Salah satu sudut pemandangan di Gunung Puter, Desa Jayamekar, Kecamatan Padalarang, KBB. (foto: istimewa).

Tepatnya adalah Gunung Puter yang letaknya di ujung selatan Kecamatan Padalarang, tepatnya di Desa Jayamekar, yang mulai dikunjungi puluhan orang setiap hari yang berwisata Alam di lokasi tersebut.

Tidak pernah ada peresmian pembukaan akses wisata itu oleh pihak Desa, Pemda, maupun pihak berwenang lainya, namun terbukanya akses wisata alam ini berdiri secara alami saja.

Melihat kondisi ini, Redaksi mencoba menelusuri, apa yang membuat menarik di Gunung Puter ini? Ternyata di Padalarang masih ada potensi wisata yang tersembunyi dan belum terpublikasi secara meluas.

Asep Sujana, Ketua Forum Masyarakat Jayamekar Bersatu (FORMASJAB), Desa Jayamekar, Kecamatan Padalarang, saat ditemui Redaksi menyampaikan beberapa potensi yang bisa dijadikan pendapatan bagi Bumdes Desa, maupun Pemda KBB.

Baca Juga,  Pasar Sudah di Relokasi Masih Bandel Jualan di Bahu Jalan Tagog, 15 Pedagang di Tertibkan Satpol PP

“Tiap hari selalu saja ada pengunjung, mereka rata-rata para wisatawan pencinta alam. Sampai banyak juga yang berkemah disini, tapi kondisinya lokasi belum di manage dengan baik karena tidak ada yang membimbing kami” terang Duseng panggilan akrab Ketua Formasjab ini.

Salah satu spot di Gunung Puter, Desa Jayamekar, KBB. (foto: istimewa).
Salah satu spot di Gunung Puter, Desa Jayamekar, KBB. (foto: istimewa).

Menurut Duseng, jika lokasi wisata ini bisa dibuka secara resmi dan ditata dengan managemen yang baik, maka akan membuka akses wisata lainya seperti wisata Kampung Cobek.

“Kalau ini dibuka resmi dan ditata, maka Wisatawan bisa dihadang oleh lokasi wisata Kampung Cobek, karena mayoritas masyarakat disini adalah pengrajin Cobek. Sehingga bisa dijadikan wisata juga” katanya.

Duseng sangat menyayangkan, Pemda KBB melalui Disparbud nampak fokus pada Wisata yang sudah jelas-jelas memiliki management dan pengelolaan yang baik. Tapi mengapa Dinas tidak mencoba untuk mencari atau membuka akses yang baru.

“Saya kira ini bukan soal Covid-19, karena dari sejak dulu, saya lihat tidak ada peran serta Dinas itu untuk turun ke bawah mencari lokasi wisata yang baru”, tandas Duseng dengan nada gemas.

Untuk memperlihatkan Wisata Gunung Puter ini, Duseng mengajak warga setempat bersama para anak, istri, dan suaminya menghabiskan masa libur di Desa nya sendiri itu.

“Ya,kemarin saya ajak warga berlibur berjalan kaki ke lokasi ini. Kegiatan warga ini diberi tema ‘NGARAKEUTKEUN DUDULURAN BALAKECRAKAN DI KEBON’ (Merekatkan Persaudaraan di Kebon). Dengan kondisi Covid-19 ini, dari pada ke lokasi Wisata lainnya jadi bahaya mending ramaikan lokasi wisata milik sendiri”, paparnya.

Salah satu kegiatan anak-anak di Gunung Puter, KBB (foto: istimewa).
Salah satu kegiatan anak-anak di Gunung Puter, KBB (foto: istimewa).

Secara detail, Duseng menjelaskan alasan dipilihnya lokasi Gunung Puter selain mendekatkan dan menjaga persaudaraan, adalah memperkenalkan wisata alam pegunungan yang ada didaerah.

Baca Juga,  Anggota DPRD Ini Jenguk Sofiah yang Sudah Sembuh dari Tumor di Perutnya

“Kami juga ingin mengangkat kearifan seni dan budaya sunda agar terjaga kelestarianya, serta menumbuhkan ekonomi kreatif masyarakat sekitar”, jelas Duseng.

Menurut Duseng, di Gunung Puter sendiri banyak beberapa fasilitas yang bisa di dapatkan, diantaranya:

– Terbangunnya rumah budaya adat sunda
– Tempat Botram (balakecrakan di kebon)
– Sarana permainan Flying Fox, dan lainnya
– Tempat Selfie
– Kolam Renang Alam
– Lapangan untuk sarana sawala atau berkumpul orang dengan jumlah banyak
– Gedung untuk sarana pertunjukan seni budaya sunda, dan lainnya
– Adanya tempat edukasi untuk anak didik usia dini (tempat dapur hidup atau sorum bermacam tanaman buah-buahan)

“Dari kunjungan yang kami lakukan tersebut, kami melihat masih butuhnya renovasi untuk Wisata Religi yang ada si dekitar area Gunung Puter (Patilasan Eyang Raksapati)“, terang Duseng lebih lanjut.

Menurutnya, pembenahan dan pembangunan sarana di Gunung Puter selama ini hanya mengandalkan swadaya masyarakat dengan segala keterbatasan yang ada.

Salah satu kegiatan anak-anak di Gunung Puter, KBB (foto: istimewa).
Salah satu kegiatan anak-anak di Gunung Puter, KBB (foto: istimewa).

Selain itu, Duseng mengatakan harapan dari FORMASJAB adalah adanya perhatian dan bantuan baik moril ataupun materi dari Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat.

“Tujuannya agar pengembangan wisata Gunung Puter cepat terealisasi untuk bisa dinikmati oleh wisatawan lokal maupun manca negara. Ketika Wisata Alam Gunung Puter ini dimunculkan, maka ini merupakan salah satu potensi Sumber Daya Alam (SDA) Daerah, dan tentunya bisa mengangkat nama Daerah juga”, pungkasnya.

 

Reporter: Mohammad Addien
Editor: Guntur Priyo

Data Corona Indonesia Selengkapnya Klik di Sini

Komentar

News Feed