oleh

Setelah 3 Bulan Mati Suri, Peternak Bebek Petelur di Tegal Kini Bangkit Lagi

Link Banner

Tegal, BANGBARA.COM.- Setelah sekitar 3 bulan lebih tak memiliki penghasilan lagi akibat pandemi covid-19, para peternak bebek petelur di Kabupaten Tegal kini mulai bangkit kembali.

Keberadaan wabah Covid-19 membuat semua sektor usaha mendadak menurun drastis penghasilanya bahkan gulung tikar.

Link Banner

Salah satunya pelaku peternak petelur bebek di Desa Banjaranyar Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal, yang harus bersusah payah kembali membangkitkan usaha tersebut.

Sebelum terjadi wabah, telur biasa dijual Rp2.100 per butir kepada bakul (tengkulak) dan sempat kewalahan melayani para tengkulak itu.

Namun sejak kondisi Covid-19 pengusaha ini pernah mencoba menjual Rp1.700 pun tidak ada yang membeli meski jauh lebih murah.

Kondisi ini diceritakan langsung oleh Tamrin salah satu pengelola peternak petelur di Desa Banjaranyar itu kepada redaksi Bangbara.com saat mengunjungi lokasi peternakan.

Kondisi peternakan di Desa Banjarnegara Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal
Kondisi peternakan di Desa Banjarnegara Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal. (Foto: Addien)

Tamrin bersama sang pemilik peternakan tersebut sempat mengambil keputusan untuk membagikan telur-telur tersebut sebagai infak kepada warga saat jelang lebaran 2020 kemarin.

“Wah, saat jelang lebaran ribuan telur saya coba jual Rp1.500 juga tidak ada yang membeli. Sehingga saya bersama pemilik peternakan ini berinisiatif untuk membagikan (infak) kepada masyarakat, dari pada telur membusuk” terang Tamrin, Sabtu, (5/7/2020).

Menurut Tamrin, kondisi peternakannya ini mulai pulih sejak 15 hari yang lalu. Meskipun belum seratus persen, namun kondisi ini berangsur pulih.

“Alhamdulillah sekarang para pembeli dari tengkulak sampai pengecer pasar sudah mulai banyak yang membeli, dan kini kami sudah memiliki kandang baru untuk mempersiapkan lonjakan pembeli nantinya” katanya.

Sambil menikmati kopi hangat di sore hari, Tamrin kembali menceritakan, bahwa kondisi tempat usahanya ini sangat terancam kepada para inventor yang menghancurkan harga telur.

Baca Juga,  Terkait Penggunaan Bahu Jalan pada Pembangunan TPS Pasar Tagog, Dishub KBB Menunggu Persetujuan Ijin

Sering terjadi beberapa pengusaha sejenisnya juga merasakan kehancuran harga telur dipasaran, akibat dari para investor yang berspekulasi untuk menawarkan uang tambahan usaha, namun dengan syarat tertentu.

“Biasanya ada investor yang memberi modal kepada pengusaha seperti kita ini, lalu dengan uang besar mereka memberikan syarat dengan penjualan telur harus kepada mereka dengan harga diterima Rp1.400. Wah, pasti di pasar harga telur jadi hancur” papar Tamrin dengan nada sedih.

Diketahui, harga penjualan yang biasa dilakukannya kepada tengkulak adalah sekitar Rp2.100, namun jika ada yang mendapatkan harga Rp1.400 otomatis siapapun lawannya pasti hancur.

Kondisi peternakan di Desa Banjarnegara Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal
Kondisi peternakan di Desa Banjarnegara Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal

Kondisi ini tidak disadari oleh pengusaha yang mendapatkan modal besar dari investor sekaligus penampung telur tersebut, karena peternakan nya lambat laun akan hancur juga

Diprediksi dengan kondisi biaya pakan bebek, ditambah perawatan dan juga lainya, sangat tidak menutup dengan penjualan harga telur Rp1.400 sehingga siapapun yang menerima tawaran dari investor spekulasi tersebut pasti akan hancur juga.

“Ya, kalau dilihat lebih enak menjadi tengkulak dibandingkan peternak, karena mereka bisa dengan bebas mencari solusi harga. Sedangkan kami penuh resiko tinggi serta lainya” tambahnya.

Tamrin didampingi istrinya berharap kondisi ini dapat menjadi perhatian pemerintah Kabupaten maupun Provinsi, untuk dapat menormalkan harga telur yang terkadang rusak oleh para pelaku usaha spekulasi.

Reporter: Mohammad Addien

Data Corona Indonesia Selengkapnya Klik di Sini

Link Banner
Link Banner

Komentar

News Feed