Data Corona Indonesia

Terkonfirmasi
3,127,826
+45,416
Meninggal
82,013
+1,415
Sembuh
2,471,678
Active
574,135
Last updated: 24 Juli 2021 - 5:53 pm (+07:00)

Data Corona Selengkapnya Klik di Sini

Indonesia
Terkonfirmasi 3,127,826 +45,416 new today Meninggal 82,013 +1,415 new today Sembuh 2,471,678 Active: 574,135 Last updated: 24 Juli 2021 - 5:53 pm (+07:00)
Link 

Banner
72

Nah lho Mulai ada Versi Berbeda, Hari Jadi KBB Jatuh Pada 2 Januari, atau 19 Juni? Begini Ceritanya

  • Bagikan
Komplek Pemda KBB.
Komplek Pemda KBB.

Padalarang, BANGBARA.COM. – Hanya tinggal hitungan hari lagi, tepatnya tanggal 19 Juni 2021 akan diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang ke 14, sesuai Peraturan Daerah (Perda) No.12 Tahun 2012 Tentang Hari Jadi KBB.

Dalam Perda tersebut disebutkan bahwa tanggal 19 Juni 2007 ditetapkan sebagai Hari Jadi KBB, mengingat pada waktu itu ditengarai sebagai peresmian Pemerintahan KBB melalui pelantikan Pejabat Bupati Bandung Barat.

Namun mengingat situasi hal ini menjadi hal bersejarah, mulai nampak diskusi dari berbagai kalangan terkait benar dan tidaknya bahwa hari lahir KBB ini jatuh pada tanggal 19 Juni itu.

Jacob Anwar Lewi, Ketua P4KBB.
Jacob Anwar Lewi, Ketua P4KBB.

Jacob Anwar Lewi, Ketua Paguyuban Pejuang Pemekaran Peduli Kabupaten Bandung Barat (P4KBB) menyebutkan, bahwa hari lahir nya KBB yang lebih tepat adalah pada 2 Januari hal ini di karenakan tertera pada UU No.12 tahun 2007.

“Tuh UU No.12  tahun 2007 lahirnya tanggal 2 Januari 2007. Sejarah jangan di belok-belokan. Panjang kalau saya cerita. Nanti lah bulan Juni di sekretariat P4KBB akan saya jelaskan di acara itu. Lebih tepatnya 19 Juni 2007 adalah pelantikan Pjs Bupati Pak Caca Koswara, jadi lahirnya Pemerintahan KBB bukan Hari Jadi KBB. Itu perintah UU pemekaran KBB No 12”, kata Jacob kepada Bangbara, Selasa, (08/06/2021).

Keterangan Jacob dilengkapi dengan cuplikan UU No.12 yang tertera beberapa pasal yang menerangkan seputar peraturan dan ketentuan perundang-undangan saat itu yang ditanda tangani oleh Presiden ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 2 Januari 2017 yang lalu.

Cuplikan UU No.12 tahun 2007.
Cuplikan UU No.12 tahun 2007.

Ditempat berbeda Djamu Kertabudi, Pengamat Politik dan Pemerintahan, melalui pesan singkatnya juga tidak jauh berbeda dengan Jacob yang saat pembahasan Raperda sempat terjadi pro kontra.

“Sebenarnya saat pembahasan Raperda ini mengundang pro-kontra, karena dengan Perda ini berarti mencabut Perda No.5 Tahun 2008 yang menetapkan tanggal 2 Januari 2007 sebagai Hari Jadi KBB sesuai dengan titimangsa (masa, waktu) UU No.12 Tahun 2007 Tentang Pembentukan KBB” ungkapnya, Rabu, (09/06/2021).

Menurut Djamu, hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan khususnya bagi dirinya apakah yang dimaksud hari jadi ini merupakan hari jadi daerah otonom KBB, ataukah Hari Jadi Pemerintah Daerah KBB? Karena waktu itu Lembaga DPRD belum terbentuk.

“Namun demikian, biarkan pertanyaan ini tidak perlu dijawab sampai kapanpun. Yang penting bagaimana mengisi kegiatan dalam memperingati hari jadi KBB ini”, lanjut pria yang juga merupakan dosen Universitas Nurtanio Bandung ini.

Djamu Kertabudi, Pengamat Politik dan Pemerintahan sekaligus Dosen dari Universitas Nurtanio Kabupaten Bandung.
Djamu Kertabudi.

Dilanjutkannya, sesuai Perda itu, bahwa dalam memperingati Hari Jadi KBB ditentukan acara pokok yaitu Upacara, dan dilanjutkan dengan Rapat Paripurna DPRD.

Namun Djamu mengatakan seyogyanya dalam acara pokok ini ditambah dengan acara ‘Riung Mungpulung’ (Pertemuan Berkumpulnya Pejabat dan Tokoh Pendiri) dari para pemangku jabatan dengan para tokoh pendiri dan pejuang pemekaran.

“Ini sebagai bentuk apresiasi Pemda dan DPRD KBB atas jasa dan pengabdian mereka. Sehingga acara dilakukan sehari penuh. Paginya upacara, siang Rapat Paripurna DPRD, dan malamnya acara ‘Riung Mungpulung’.

Ditambahkan Djamu, dalam acara ‘Riung Mungpulung’ ini dapat terjalin komunikasi dimana pihak Bupati dan DPRD menyampaikan program, dan pihak pejuang menyampaikan evaluasinya.

“Sehingga berdasarkan Perda tadi,  peringatan Hari Jadi KBB ini bukan saja dilaksanakan pihak Pemda, tetapi dilaksanakan pula oleh pihak swasta, dan masyarakat. Akhirnya kembali ke diri kita  masing-masing, sejauh mana ‘rasa miboga’ kita terhadap KBB ini. Wallohu A’lam”, pungkasnya. (Addien)

banner 728x90
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *