oleh

Misteri Makam Keramat KH Atang bin Jagaraksa, Bikin Gempar Warga Bandung Barat

 

Saat Musyawarah Warga, Bersama Ketua MUI KH Sahidin dan Para Tokoh Agama

CILILIN, BBPOS – Makam yang dikeramatkan, terletak di Kampung Bojongsalam RT 06 RW 07 Desa Rancapanggung Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, mulai mencuat pada akhir Agustus 2017 lalu, dengan mitos yang belum bisa dibuktikan tentang keberadaan makam KH Atang bin Jagaraksa, yang meninggal tahun 1821 itu, sehingga kabar adanya makam yang dikeramatkan ini, tidak sekedar beredar di seputar Kecamatan Cililin saja, bahkan sudah menyebar ke luar Kabupaten Bandung Barat.

Dengan adanya polemik tersebut, tim BBPOS melakukan penelusuran di lapangan. Saat ditemui, salah seorang warga yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan ” Bahwa makam tersebut baru dipindahkan ke lokasi sekarang sekitar 3 bulan yang lalu, dan dibangunkan secara permanen ukuran 8 x 8 mtr, di tanah milik kekuarga ust. Jafar, sejak dibangun sering dipakai kegiatan ritual atau tawasulan, jama’ahnya justru kebanyakan bukan orang sini, tapi datang dari padalarang dan kota Bandung, biasanya malam selasa dan malam jum’at” katanya.

Saat ditemui dan diminta keterangan, Ketua BPD Desa Rancapanggung, Ade Zenal Arifin, membenarkan beredarnya isu adanya makam yang dikramatkan itu, ” Ya memang benar sudah lama warga setempat, mengeluhkan adanya makam yang dikeramatkan dan melaporkan ke Pihak Pemerintah Desa, hanya waktu itu kami belum bisa melakukan tindakan apa-apa, karena Ketua MUI Desa Rancapanggung KH. Sahidin waktu itu sedang menunaikan Ibadah haji. Baru pada hari selasa kemarin (14/11/2017), setelah beliau pulang, kami Musyawarah bersama Ketua MUI dan para Tokoh Agama, saat itu dihadiri juga oleh Babinkamtibmas dan Babinsa”. katanya.

Terungkap juga dalam Musyawarah tersebut, bahwa konon makam yang dikeramatkan itu adalah makam KH Atang bin Jagaraksa, yang meninggal tahun 1821 diperoleh dari mimpi / ilapat yang beberapa kali dialami sdr Jafar.

Sementara dana yang digunakan untuk memindahkan dan membangun makam tersebut pemberian dari Ibu Wawat orang Kota Bandung. Dalam musyawarah tersebut, menurut Ketua MUI KH.Sahidin dan beberapa orang Tokoh Agama menyatakan, syarat atau ciri-ciri makam wali minimal ada dua syarat yang harus dipenuhi diantaranya, Saat dilakukan pemindahan jasad wali/sholeh, jasad masih dalam keadan utuh dan Sanad atau silsilah keturunan harus jelas. “Menentukannya tidak cukup hanya berdasarkan pada mimpi” menurut salah satu tokoh saat bermusyawarah.

Saat dialog pada musyawarah tersebut, terungkap bahwa saat digali keadaan jasad sudah tidak bebentuk dan hanya berupa tanah hitam saja, artinya syarat pertama itu gugur. Kemudian diminta waktu untuk menulusuri dulu dan menunjukan silsilah keturunan dari KH Atang bin Jagaraksa tersebut, juga tidak bisa.

Setelah Musyawarah itu MUI Desa Rancapanggung akan merekomendasikan kepada Pemerintah Desa agar kegiatan ritual di Makam tersebut segera ditutup sementara. (adn)

127total visits,1visits today

Komentar

News Feed