oleh

Miris, Tak Ada Biaya Operasi, Bayi Kembar Asal Padalarang Ini Butuh Bantuan

Link Banner

Padalarang, BANGBARA.COM. – Lagi dan lagi, sebuah kisah yang mengiris hati terjadi di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB). Kali ini berasal dari Kampung Cibacang RT02 RW05, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, KBB.

Pasutri (Pasangan suami istri) Nurdiana (23) dan istrinya Iis Apriyani (21) yang telah melahirkan bayi kembar prematur dalam usia kandungan 7 bulan, karena posisi bayi yang sungsang, sehingga harus dilakukan tindakan operasi caesar di Rumah Sakit Karisma Cimareme, pada hari Kamis kemarin (06/2/2020).

Link Banner

Bayi pertama yang diberi nama Yusron Nahlan Syauqi, dilahirkan dengan berat 1.200 gram, saat ini berada di ruang NICU dengan kondisi sesak nafas namun relatif stabil.

Sedangkan Bayi kedua yang diberi nama Yusril Nahlan Syauqi, dilahirkan dengan berat 1.300 gram, yang saat ini juga berada di ruang NICU, kondisinya lebih memprihatinkan.Selain mengalami sesak nafas, juga harus di lakukan transfusi darah plasma, dimana harga per labu (kantong) adalah Rp600 Ribu.

Kondisi perekonomian yang pas-pasan membuat Nurdiana sang suami yang sehari-hari berprofesi sebagai seorang supir, saat ini menjadi kelimpungan memikirkan biaya perawatan istri dan kedua buah hatinya.

Beban Nurdiana bertambah berat karena harus memikirkan biaya rawat di ruang NICU yang permalam adalah Rp1 juta untuk 1 orang bayi.

Padahal untuk membayar biaya operasi caesar sebesar Rp12 juta, ia belum tahu harus mendapatkannya dari mana. Dengan begitu Ia baru bisa membayar DP sebesar 2 juta rupiah untuk operasi caesar tersebut.

“Saya sudah ke kantor BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) untuk mengurus kartu BPJS, tapi belum bisa diproses karena kartu BPJS milik istri saya pun belum aktif”, jelas Nurdiana kepada Redaksi Bangbara.com melalui sambungan telepon, Jum’at (07/02/2020).

Baca Juga,  2 Orang Tewas Tenggelam Saat Selamatkan Temanya di Sungai Saguling

Dengan tidak adanya kartu BPJS ini, maka untuk sementara ini Ibu beserta kedua bayi kembarnya di rawat secara umum yang mana membutuhkan biaya yang sangat besar, berbeda jika menggunakan kartu BPJS.

“Saya juga sudah membuat SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) untuk KIS (Kartu Indonesia Sehat) atau Jampersal (Jaminan Persalinan), tapi di Dinsos (Dinas Sosial) tidak di acc (di setujui), karena di KK (Kartu Keluarga) tertulis saya bekerja sebagai Karyawan Swasta, padahal KK itu di buat dulu saat saya masih kerja di pabrik, sebelum jadi supir seperti sekarang”, ungkap Nurdiana kembali.

Dengan kondisi kedua buah hatinya saat ini, bisa diperkirakan masa perawatan akan memakan waktu cukup lama yang sudah pasti akan membuat biaya perawatan akan semakin membengkak dan membesar.

“Saya benar-benar bingung saat ini, karena sudah tidak punya dana sama sekali. Sedangkan menurut Dokter kondisi kedua bayi saya belum memungkinkan untuk dibawa pulang saat ini, karena harus menunggu kondisinya stabil dan berat badannya naik masing-masing menjadi 1.800 gram. Saya hanya bisa berdoa dan berharap mudah-mudahan ada orang baik hati yang mau membantu saya saat ini”, tutur Nurdiana dengan suara bergetar di akhir perbincangan kepada Redaksi Bangbara.

Bagi siapa saja para dermawan ataupun Pemda yang ingin ikut serta mendonasikan bantuan nya dapat langsung menghubungi Nurdiana sang Ayah di nomor telpon / WhatsApp 0895-3430-17609. Semoga kedua Dede Bayi, dan Sang Ibu yang telah berjuang diberikan solusi yang terbaik oleh Allah.

 

Penulis : Guntur Priyo
Editor : Mohammad Addien

Link Banner
Link Banner

Data Corona Indonesia Selengkapnya Klik di Sini

Komentar

News Feed