oleh

Miris, Bandung Barat Lumpat, Masih Ada Jembatan Yang Sekarat

Cipongkor, BANGBARA.COM –Beginilah wajah akses vital jembatan penyeberangan Gugur Ciketa yang menjadi alat penyeberangan penyambung Desa Sirnagalih dengan Desa Cijambu Kecamatan Cipongkor Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Tampak pada foto beberapa anak dibawah umur yang menyeberang jembatan penyeberangan tersebut. Konsisi jembatan yang terbuat dari bambu hasil swadaya masyarakat tersebut, adalah akses terpenting bagi para warga dan juga para siswa sekolah yang mayoritas para siswa SD.

Jembatan yang sudah berdiri sejak puluhan tahun ini,  kerap terus mendapat perbaikan secara swadaya dari masyarakat setempat. Kondisi memprihatinkan ini di tunjukan saat segerombolan para anak sekolah dasar yang ingin menyeberang jembatan tersebut.

Yayah Halimah, salah seorang guru warga Rawa Tampele Sirnagalih yang juga mengajar di sekolah SDN Ciketa Cijambu yang berdekatan dengan penyeberangan menyampaikan kepada Bangbara.com, bahwa kondisi jembatan ini sudah semestinya harus mendapatkan perhatian dari pemerintah.

“Hal ini seharusnya sudah harus mendapatkan perhatian dari pemerintah. Saya berharap kepada pemimpin KBB dan para wakil rakyat agar dapat perhatikan kebutuhan masarakat dengan kondisi seperti ini”paparnya, dengan wajah yang sedih melihat para muridnya yang kesulitan saat menyeberang jalan. Minggu, (23/12/18)

Akses jembatan penyeberangan antar desa ini sangat perlu perhatian pemda, ataupun DPRD KBB untuk kepedulianya dengan jargon Lumpaaat yang di gaungkanya. Karena dipastikan akan menjadi hambatan Lumpaaat nya para warga dan para siswa sekolah yang melintas antar Desa tersebut.

Kejadian tragis dialami oleh Royani dengan panggilan akrabnya Aroy, adalah seorang siswa kelas 4 SD yang terjatuh ke dasar sungai, sekitar tiga minggu yang lalu bertepatan saat ujian Penilaian Hasil Semester (PAS), saat Aroy menyeberang melewati jembatan bambu tersebut. Bersyukur Aroy hanya mengalami luka memar saja, karena langsung diselamatkan oleh Yayah dan Jajang dari guru honorer tersebut, serta bersama warga sekitar lainya.

“Ini baru satu anak yang menjadi korban, apa mau menunggu korban berikutnya, lalu kepada siapa kami harus sampaikan kondisi keadaan sosial masyarakat ini? ” tambah Yayah. (Adn)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed