oleh

Ini Dia Babak Baru Sengketa Pilkades KBB, Bupati dan Panitia Terancam PTUN

Padalarang, BANGBARA.COM – Polemik dari hasil seleksi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang diadakan di Kampus Universitas Jendral Ahmad Yani (UNJANI) Cimahi pada hari Kamis (31/10/2019) yang lalu akhirnya memasuki episode baru.

Beberapa Bakal Calon Kepala Desa (Balonkades) yang tidak berhasil lolos pada tahap penyeleksian di Kampus UNJANI, siang ini Senin (11/11/2019) di dampingi oleh Kuasa Hukum Hamzah Gusfari SH dari tim Gerakan Nasional Penegak Hak Azasi Manusia (GN-GAKHAM) KBB, mendatangi Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) KBB.

Bertempat di Ruang Rapat Badan Musyawarah (Bamus) DPRD KBB, Hamzah yang juga didampingi oles Asep Ridwan dari KBB TV mengatakan tujuan mereka mendatangi DPRD KBB adalah menemui Komisi I DPRD KBB untuk berkonsultasi mengenai keinginan mereka mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) berkaitan dari hasil seleksi Pilkades di UNJANI.

“Kedatangan kami kesini bukan untuk meminta keputusan hukum kepada anggota dewan, tetapi adalah untuk berkonsultasi dan menyampaikan aspirasi karena kami merasa tidak puas, merasa banyak kejanggalan, dan ada indikasi kecurangan pada saat penyeleksian calon Pilkades kemarin”, ujar Hamzah.

Selain untuk menemui para anggota dewan dari komisi I, para kandidat balon yang hadir diantaranya adalah Endang Permana calon dari Desa Bojong Mekar, Kecamatan Cipendeuy, lalu Yulia Sandina Dewi calon dari desa Cisomang Barat, Kecamatan Cikalong wetan, dan Ridwan Pardian dari Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang.

Kesemuanya itu mereka sepakat untuk menandatangani surat kuasa kepada tim kuasa hukum untuk melakukan tindakan hukum berupa gugatan ke PTUN.

“Ada 4 (empat) pihak yang akan kami gugat, yaitu Bupati KBB, Panitia dari KBB, Pantia dari UNJANI dan Panitia Desa, terkait dengan kejanggalan dalam seleksi Pilkades kemarin” ungkap Hamzah.

Baca Juga,  Peringati WCD, Para Disabilitas dan Warga Cikalongwetan Gelar BERLIBUR

Indikasi kejanggalan dan kecurangan yang terjadi di lapangan menurut Hamzah diantaranya adalah adanya bakal calon yang lolos sebanyak 6 (enam) orang dari Desa Citatah, padahal seharusnya maksimal berjumlah 5 (lima) orang.

Lalu alasan pihak UNJANI yang mengatakan salah input data tentang bisa berubahnya hasil nilai calon, adanya dokumen atau surat palsu, dan hal-hal lain yang akan diungkapkan pada saat persidangan nantinya.

Salah satu bakal calon, Endang Permana atau yang akrab dipanggil Etok mengungkapkan beberapa fakta aneh yang terjadi di Kampus UNJANI pada saat ujian penyeleksian calon pilkades kemarin.

“Pada saat saat itu dikatakan bahwa hasil ujian akan di umumkan pukul 20,00 WIB malam, tapi ternyata molor hingga pukul 3 pagi. Yang lebih anehnya, panitia di UNJANI mengatakan bahwa hasil ujian akan di bicarakan dulu di Rapat Pleno. Ini benar-benar sangat aneh”, kata Etok dengan berapi-api.

Etok menambahkan, bahwa aneh dan lucunya kebanyakan calon-calon yang gugur dan tidak lolos adalah yang mayoritas mendapatkan suara terbanyak di wilayahnya.

Sementara bakal calon lainnya Yulia mengatakan, bahwa soal ujian yang muncul sangat berbeda dengan kisi-kisi yang sudah diberikan pihak panitia sehari sebelum ujian. Hal ini diamini oleh Ridwan, bakal calon dari Desa Padalarang.

“Capek-capek kami mempelajari tentang struktur desa, geografis dan wilayah desa tempat tinggal kami, pengetahuan umum tentang desa, tapi faktanya pada saat ujian, hal-hal ini tidak ditanyakan”, ungkap Ridwan.

Sementara itu, pihak Komisi I DPRD KBB belum memberikan tanggapan apapun terkait peristiwa yang terjadi siang ini. Karena pada saat pertemuan siang ini terjadi, para anggota dewan sedang tidak berada di tempat. (Gtr)

 

Komentar

News Feed