oleh

Hadiri Asyuro Dikeroyok Pendemo, Jamaah Habib Alwi Assegaf Lapor Polisi

Kota Bandung, BANGBARA.COM – Ustad Manan (43 tahun) jamaah asal Sukabumi dikeroyok sejumlah orang tidak dikenal saat akan menghadiri Haul Sayyidina Husein bin Ali (10 Muharam/Asyuro) yang berlangsung di Majelis Habib Alwi Assegaf Jl. Kembar VI No. 8, Cigereleng, Regol Kota Bandung, Kamis malam (20/09/18).

Berdasarkan laporan polisi (Polsek Regol) No: LP/B/283/IX/2018/sekta, kejadian bermula sekitar pukul 19:00 WIB Manan (korban/pelapor) hendak mendatangi acara peringatan 10 Muharam (Asyuro) yang berlangsung di Majelis Habib Alwi, korban dihadang oleh massa di Jl. Kembar I yang melarangnya menghadiri acara tersebut. Tidak hanya itu massa memukuli dan menendang korban hingga mengalami luka-luka dibagian mata sebelah kiri memar dan bengkak serta bagian tubuh yang lain terasa sakit.

Peringatan Asyuro yang dihadiri ribuan orang dari berbagai daerah di Jawa Barat tersebut dikepung oleh massa pendemo yang menolak Asyuro dan memasang spanduk penolakan, akan tetapi acara tetap berlangsung ditengah penjagaan ketat aparat kepolisian yang dibantu sejumlah personil TNI.

Dalam sambutannya ketua Panitia Asyuro 2018 yang juga sesepuh Kabuyutan Gegerkalong Girang Abah Yusuf Bakhtiar, M.Pd memaparkan tentang tradisi peringatan Asyuro telah menjadi bagian dari budaya Nusantara sebagai bentuk kecintaan terhadap Sayyidina Husein cucunya Nabi Muhammad yang dibantai di Karbala, Irak pada 61 H. Tradisi Asyuro tersebut diantaranya pembagian bubur suro merah putih (Jawa/Sunda), Tabuik (Kota Pariaman), Tabut (Bengkulu) dan lain sebagainya.

Diketahui berapa waktu sebelumnya Aliansi Nasional Anti Syiah (Annas) melayangkan surat penolakan terhadap peringatan Asyuro dan melakukan sweeping ke sejumlah lembaga-lembaga Muslim Syiah di Kota Bandung dengan tuduhan meresahkan masyarakat dan berisi ujaran kebencian.

Sementara itu R. Dhiat Sukmana Sadikin salah seorang tokoh Kabuyutan Sumedang yang menghadiri acara tersebut menegaskan bahwa tuduhan Annas tidak berdasar dan tidak ada ujaran kebencian sebagaimana dituduhkan Annas.

“Masyarakat kawasan Regol khususnya penduduk di Komplek Kembar malah dengan sukarela membuka pintu-pintu gerbang rumahnya mempersilahkan halaman dan garasi dipakai duduk oleh jamaah Asyuro. Sebagian rombongan jamaah dari luar kota dihadang dan tak boleh masuk oleh pendemo”, terangnya.

Menurut Dhiat perilaku dan perbuatan kelompok sektarian Annas membuat suasana mencekam dijalanan, menebar teror rasa takut kepada masyarakat Regol dengan menghasut, memprovokasi, menunjukkan kekasaran serta ujaran kebencian, tandasnya. (Jk)

7114total visits,6visits today

Komentar

News Feed