oleh

Guru Fungsional di KBB Menjadi Struktural Ternyata Tidak Mudah, Bagaimana Nasib Murid Jika Ditinggal Guru?

Link Banner

Ngamprah, BANGBARA.COM. – Banyaknya Guru yang berkeinginan beralih fungsi dari jabatan fungsional ke jabatan struktural di Kabupaten Bandung Barat (KBB) cukup menimbulkan kekhawatiran berbagai pihak.

Berikut ini keterangan dari Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) KBB Asep Ilyas yang menyebutkan keinginan para Guru tersebut sebaiknya difikirkan kembali.

Link Banner
Asep Ilyas, Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) KBB
Asep Ilyas, Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) KBB

“Dengan banyaknya Guru yang berbondong-bondong ingin pindah dari jabatan fungsional ke struktural, otomatis akan membuat jumlah Guru yang ada di KBB semakin berkurang”, ujar Asep saat ditemui, Rabu (23/09/2020).

Secara garis besar, jabatan fungsional sendiri adalah jabatan teknis yang tidak tercantum dalam struktur organisasi, tetapi dari sudut pandang fungsinya sangat diperlukan dalam pelaksansaan tugas-tugas pokok organisasi, misalnya Auditor, Guru, Dosen, Dokter, Perawat, Peneliti, dan lainnya.

Sedangkan jabatan struktural adalah jabatan yang secara tegas ada dalam struktur organisasi. Kedudukan jabatan struktural bertingkat-tingkat dari tingkat yang terendah (Eselon IV/B) hingga yang tertinggi (Eselon I/A), misalnya Dikertur Jenderal, Sekretaris Daerah, Kepala Dinas, Kepala Bagian, Kepala Bidang, Kepala Seksi, Camat, Lurah, dan lainnya.

Menurut Asep, berdasarkan Analisa Beban Kerja (ABK) idealnya di KBB itu mempunyai Guru sekitar 7.000 orang untuk tingkat SD-SMP, namun jika melihat dari data yang ada saat ini jumlah Guru yang ada baru sekitar 5.000 orang.

“KBB itu saat ini sedang kekurangan tenaga Guru. Bayangkan saja, sampai tahun 2021 nanti jumlah Guru yang akan pensiun sebanyak 800 orang, sedangkan dari seleksi CPNS saat ini hanya ada 318 orang, itupun yang akan diterima atau diangkat hanya berjumlah 120 orang. Artinya ada ketimpangan jumlah kuota antara guru yang masuk dan keluar”, terang Asep kembali.

Baca Juga,  Selesai Dilantik, Ebbo Ketua Karang Taruna Ngamprah yang Baru Siap 'Lumpaat'

Asep tidak menyalahkan dan tidak menutup kemungkinan jika memang ada Guru yang ingin beralih ke jabatan struktural, karena hal itu memang diperbolehkan. Namun dirinya mengingatkan bahwa ada aturan yang mengatur tentang hal tersebut.

“Kalau seperti Guru, yang mau pindah ke jabatan struktural itu syaratnya minimal sudah 8 tahun menjalani profesi Guru, lalu jumlah kebutuhan Guru yang ada sudah terpenuhi”, ungkap Asep.

Diingatkan kembali oleh Asep, jika banyak Guru yang beralih ke jabatan struktural, bagaimana dengan nasib siswa atau anak didik apabila nantinya banyak Guru beralih fungsi?

“Idealnya 1 kelas itu kan dipegang oleh 1 Guru, nah sekarang ini banyak 1 Guru memegang beberapa kelas. Nah, jika makin banyak Guru yang pindah fungsi, berarti makin banyak lagi kekosongan tenaga Guru kan? Gimana nasib para anak didik tersebut nantinya?”, tanya Asep.

Di akhir perbincangan kepada Bangbara, Asep kembali menegaskan tidak menyalahkan dan tidak menutup kemungkinan jika memang ada Guru yang ingin beralih ke jabatan struktural, namun sebaiknya difikirkan kembali dengan baik.

“Tolong dipertimbangkan dan difikirkan kembali, terutama bagaimana nantinya nasib para siswa jika semakin kekurangan tenaga pengajar”, pungkasnya.

Asep Dendih, Kepala Dinas Pendidikan KBB.
Asep Dendih, Kepala Dinas Pendidikan KBB.

Ditempat yang berbeda Hal senada diungkapkan oleh Asep Dendih selaku Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) KBB yang menyebutkan bahwa pihaknya juga memang mempertimbangkan dulu dengan matang jika memang ada Guru yang mengajukan keinginan beralih dari jabatan fungsional ke jabatan struktural.

“Memang banyak Guru yang mengajukan hal ini ke Disdik, namun semua harus diverifikasi dulu. Kami juga mempertimbangkan dengan matang, karena situasi saat ini di KBB memang sangat kekurangan tenaga Guru”, ujar Asep Dendih yang dihubungi, Rabu (23/09/2020).

Baca Juga,  Ketua Karang Taruna Jabar Angkat Jempol Pelatihan Jurnalistik di Bandung Barat

Dirinya menyebut, walaupun Guru memang mempunyai hak untuk meningkatkan karier, namun sebaiknya difikirkan kembali dengan melihat situasi kebutuhan Guru saat ini, karena saat ini murid dan orang tua membutuhkan tenaga pendidik yang berkompeten.

“Jika memang ingin meningkatkan karier, sebenarnya bisa secara Linear karena masih dalam satu bidang yaitu bidang Pendidikan. Seumpama Guru menjadi Kepala Sekolah, lalu Kepala Sekolah menjadi Pengawas. Yang penting memenuhi penilaian berdasarkan PDLT (Prestasi, Dedikasi, Loyalitas dan Tidak Tercela)“, terang Asep Dendih.

Sehingga dengan begitu tenaga Guru untuk mengajar siswa siswi sangat dibutuhkan lebih banyak lagi. Namun keterbatasan kuota dari Pemerintah Pusat, sehingga para Guru dapat mempertimbangkan masa depan KBB jika kekurangan Guru untuk mengajar.

Reporter: Mohammad Addien
Editor: Guntur Priyo

Data Corona Indonesia Selengkapnya Klik di Sini

Link Banner

Komentar

News Feed