Link Banner
98

Densus 88 Tangkap Profesor Teroris, 66 Kader Ternyata Terlatih di Medan Tempur Suriah

  • Bagikan
Petugas Detasemen Khusus (Densus) 88 membawa terduga teroris Taufik Bulaga alias Upik Lawanga dari Lampung setibanya di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (16/12/2020). Upik Lawangan merupakan DPO Kepolisian sejak 14 tahun lalu yang diduga merakit bom, kasus bom di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton. [FOTO: ANTARA/Muhammad Iqbal/foc]
Petugas Detasemen Khusus (Densus) 88 membawa terduga teroris Taufik Bulaga alias Upik Lawanga dari Lampung setibanya di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (16/12/2020). Upik Lawangan merupakan DPO Kepolisian sejak 14 tahun lalu yang diduga merakit bom, kasus bom di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton. [FOTO: ANTARA/Muhammad Iqbal/foc]

Lampung, BANGBARA.COM.- Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror menangkap salah satu teroris paling bertanggungjawab yang diduga terlibat dalam sejumlah aksi teror mulai tahun 2004 hingga 2006.

Tersangka masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) kepolisian sejak 14 tahun lalu. Rangkaian teror yang melibatkan dirinya antara lain, Bom Bali, Bom Tentara, pemboman di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton.

Taufik Bulaga alias Upik Lawanga, yang juga dikenal dengan nama Udin Bebek oleh warga sekitar tempat dia tinggal, ditangkap di Lampung pada 23 November 2020 lalu.

“Tersangka di sini mengaku bernama Safrudin, berjualan bebek potong, dikenal dengan nama Udin Bebek,” ungkap Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Zahwani Pandra Arsyad, Sabtu (19/12/2020), dikutip dari Kompas.com.

Upik merupakan tokoh penting kelompok Jamaah Islamiyah yang berperan dalam merakit bom dan senjata api, saking pentingnya sampai dijuluki ‘profesor’.

Untuk menyamarkan kegiatan dalam merakit hingga pengujian senjata api yang bersangkutan melakukan ternak bebek.

“Jadi, tersangka memelihara bebek ini agar suara saat merakit senjata tidak terdengar oleh warga sekitar. Memang betul-betul dipikirkan oleh tersangka,” ujar Pandra.

Upik Lawanga memiliki rumah di Desa Sri Bawono, Kecamatan Way Seputih, Lampung Tengah. Menurut warga, tersangka tidak terlalu sering bergaul, di samping jarak antar tetangga yang cukup jauh.

Sejak tahun 2013 Upik sudah tinggal di lokasi tersebut. “Jarak dengan rumah tetangga terdekat sekitar 100 meter,” ungkap Kabag Penum Divisi Humas Mabes Polri Kombes Ahmad Ramadhan.

Dalam melakukan penggeledahan dirumah tersangka, polisi menemukan sebuah bungker berukuran 3 x2 meter yang ditutup dengan terpal hitan dan pintu yang berukuran kecil. Saat dibuka oleh polisi, bungker tersebut digenangi air setinggi lutut orang dewasa.

“Genangan air ini untuk meredam suara saat tersangka menguji bahan peledak dan senjata api yang ditaksirnya,” kata Pandra.

Sementara itu Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono membenarkan terkait julukan “profesor” yang disematkan pada Upik karena mampu mempelajari karakteristik wilayahnya ketika membuat bom.

“Misalnya di Poso bisanya banyak orang menggunakan senter yang kalau malam untuk cahaya penerangan. Jadi yang bersangkutan membuat bomnya seperti senter biar orang-orang tidak curiga,” ujarnya.

Argo menambahkan, sebelumnya pemimpin kelompok Jamaah Islamiyah (JI) sudah menyuruh Upik membuat senjata api rakitan sejak Agustus 2020.

“Masalah nanti digunakan kapan belum tahu, tapi yang bersangkutan sudah mempersiapkan, ada perintah untuk membuat senjata,” ucap Argo.

Sementara itu, total ada 23 terduga teroris anggota kelompok JI yang ditangkap tim Densus 88 selama November-Desember 2020. Mereka dibawa ke Mabes Polri untuk diperiksa lebih lanjut.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono mengatakan kelompok teroris JI diduga telah memberikan pelatihan khusus kepada para anggotanya untuk melawan musuh.

“Mereka (JI) sudah menyiapkan kemampuan diri dengan pelatihan-pelatihan khusus guna mempersiapkan kekuatan melawan musuh yakni negara dan aparat,” kaya Argo dalam keterangannya, Minggu (20/11/2020).

Menurut dia, proses pengkaderan yang dilakukan JI terhadap teroris muda diagendakan secara rapi. JI bahkan memiliki bagian khusus untuk menyiapkan para kadernya itu.

Diduga, koordinator pelatihan kelompok JI adalah Joko Priyono alias Karso, sementara penanggung jawab kelompok ini adalah Para Wijayanto.

Dari informasi yang diperoleh Polri, terdapat 91 kader JI yang diberi pelatihan tempur.

Argo mengatakan, 66 orang di antaranya dikirim ke Suriah dan beberapa sudah kembali ke Indonesia.

“Sebagian besar dari mereka juga sudah berangkat ke Suriah bergabung dengan kelompok teror di sana dan berperan aktif dalam konflik di Suriah. Kemampuan yang sudah diasah di tempat pelatihan dan medan tempur sebenarnya (Suriah) menjadikan mereka sebagai potensi ancaman nyata,” ucapnya.

 

Penulis: En-En

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *