oleh

Bandung Barat Masih Ada Sekolah Kandang Ayam

SELEPAS tengah hari, Selasa 17 Mei 2016, para siswa SMPN 3 Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat sudah bubar. Namun, tidak dengan Raden Mochamad Toha, sang kepala sekolah. Ia masih berada di lingkungan sekolah yang berada di Jalan Desa SItuwangi, Kecamatan Cihampelas itu.

“Biasanya sekolah dibagi dua sif, pagi dan siang. Namun, karena siswa kelas sembilan baru saja selesai UN, jadi mereka libur. Sekolah sekarang hanya sif pagi,” ujarnya.

Toha memang tinggal di areal sekolah seluas 3.426 meter persegi itu. Di depan rumah Toha, ada musala sekolah, sementara di seberang musala, ada ruang guru, dan kepala sekolah seluas 3×5 meter persegi.

Di belakang ruang guru tersebut, ada tiga bangunan lokal dengan posisi sejajar yang digunakan siswa untuk belajar. Bangunan itu tidak seperti sekolah pada umumnya. Namun, hanya berupa kandang ayam yang disulap mejadi ruang kelas.

Dua bangunan itu masing-masing berukuran 8×20 meter persegi yang dibagi-bagi menjadi enam ruang kelas. Di dalam ruangan itulah, sebanyak 370 siswa SMPN 3 Cihampelas mengikuti kegiatan belajar-mengajar.

Layaknya kandang ayam broiler, dinding bangunan tersebut hanya berupa triplek dengan atap asbes. Di dalamnya ada dua kelas dengan hanya disekat triplek yang menyisakan ruang udara cukup besar di bagian atas. Sementara lantainya pun hanya berupa tanah karena semen sudah banyak mengelupas.

“Satu kelas ini diisi oleh lebih dari 30 siswa. Saat kegiatan belajar-mengajar berlangsung, memang tidak fokus dan tidak nyaman karena berada dalam satu ruangan yang hanya disekat,” katanya.

Kandang ayam yang berubah fungsi menjadi ruang kelas itu adalah satu-satunya ruangan yang bisa dimanfaatkan siswa. Sebab, tidak ada ruang perpustakaan, laboratorium, koperasi, tempat unit kegiatan siswa, dan bangunan lainnya yang menunjang kegiatan sekolah.

Padahal, SMPN 3 Cihampelas sudah berdiri sejak 2010. Sebelum menempati kandang ayam sejak setahun terakhir, para siswa sekolah itu menumpang belajar di sekolah lain, yakni di SMPN 1 Cihampelas pada 2010-2012, SDN SItuwangi pada 2013-2015, dan SDN Paojansari pada 2014-2015.

Berpindah-pindahnya sekolah tumpangan tersebut bukan tanpa alasan. Menurut Toha, setiap tahun para pendaftar ke SMPN 3 Cihampelas terus meningkat. Mulai dari angkatan pertama yang hanya 17 siswa, meningkat pada angkatan kedua sebanyak 72 siswa, dan angkatan ketiga melonjak hingga 113 siswa.

“Seiring dengan terus meningkatnya pendaftar, mau tidak mau SMPN 3 Cihampelas harus punya bangunan sendiri,” katanya.
Masih Ada Sekolah Kandang Ayam di Kabupaten Bandung Barat
Oleh: Cecep Wijaya Sari 18 Mei, 2016 – 08:00

Berbagai upaya mendirikan bangunan sekolah sudah dilakukan. Namun, lagi-lagi terkendala lahan. Sebab, kawasan Kecamatan CIhampelas sebagian berupa lahan hijau yang dilarang untuk mendirikan bangunan.

Hingga pada tahun lalu, Toha merelakan tanahnya untuk dijadikan gedung sekolah. Lahan seluas 3.426 meter persegi milik keluarganya yang di atasnya ada kandang ayam disetujui Pemkab Bandung Barat untuk pendirian sekolah.

“Pemerintah pun hanya membebaskan lahannya sedangkan bangunan sekolah tidak ada. Jadi, terpaksa kandang ayam milik saya dijadikan ruang kelas setelah direnovasi dengan iuran swadaya dari para guru. Total biaya renovasi mencapai Rp 40 juta,” ujarnya.

Seiring dengan perjalanannya, sekolah tersebut pun mulai mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah. Saat ini, ada tiga bangunan lokal yang tengah dibangun di areal sekolah. Rencananya, tahun ajaran depan bangunan tersebut sudah bisa digunakan.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olah Raga Kabupaten Bandung Barat Agustina Piryanti sebelumnya mengungkapkan, SMPN 3 Cihampelas memang sekolah yang diprioritaskan untuk pembangunan unit sekolah baru.

Selain sekolah itu dan sejumlah sekolah lainnya, seperti SMPN 4 Cipeundeuy, SMPN 4 Cikalongwetan, SMPN 3 Cisarua, dan SMPN 6 Lembang juga membutuhkan bantuan karena masih menumpang di sekolah lain.

Meski demikian, menurut Toha, pembangunan unit sekolah baru di SMPN 3 Cihampelas tidak memungkinkan. Sebab, pembangunan sekolah baru membutuhkan lahan sedikitnya 6.000 meter persegi sementara lahan SMPN 3 Cihampelas hanya 3.426 meter persegi.

Dia berharap agar pemerintah daerah dan berbagai pihak lainnya memberikan bantuan berupa bangunan ruang kelas baru. Saat ini, dibutuhkan 13 ruang kelas baru untuk bisa menampung semua siswa agar semuanya bisa sekolah pagi.

“Dengan bantuan ini, diharapkan partisipasi siswa SMP terus meningkat. Dengan adanya sekolah ini, partisipasi SMP di CIhampelas juga sudah meningkat menjadi 90 persen, dari sebelum ada SMP ini yang hanya di bawah 10 persen,” tuturnya.***0

Cecep Wijaya Pikiran Rakyat

104total visits,1visits today

Komentar

News Feed