oleh

Akhirnya Alfan Penderita Hidrosefalus Itu Menemukan Solusi Perawatanya

Ngamprah, BANGBARA Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya Alfan sang penderita Hidrosefalus warga Desa Citalem Kecamatan Cipongkor itu, kini menemui solusinya, karena akan mendapatkan fasilitas perawatan dari RSUD Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Pasalnya perawatan untuk Alfan ini akan ditangani secara langsung oleh pihak RSUD Cililin yang siap memberikan pelayanan terbaik bagi pasien Alfan yang menderita Hidrosefalus itu.

Hal ini diungkapkan langsung oleh Arie Jauhari Ketua Komunitas J-Balad (Jaminan Balad) yang ikut mendampingi keluarga Alfan untuk memediasi bersama pihak Dinkes KBB juga RSUD Cililin dalam pertemuan siang tadi pada Kamis, (22/8/2019).

“Alhamdulillah mediasi bersama keluarga Alfan dan pihak Dinkes, serta RSUD Cililin berjalan baik bernuansa kekeluargaan. Saya ucapkan terimakasih kepada Ibu dr Lia dan Pak dr Hidayat beserta jajaranya” papar Arie kepada Bangbara.com usai pertemuan tersebut.

Hasil pertemuan tersebut, menemui kesepakatan untuk kedepanya, orang tua dari adik Alfan yang berasal dari keluarga prasejahtera ini tidak lagi ragu-ragu dan intens memeriksakan anaknya agar mendapatkan pelayanan kesehatan di RSUD Cililin.

“Kami atas nama keluarga besar J-Balad mengucapkan terima kasih dan respect sebesar-besarnya kepada Pak Kadinkes dr Hernawan yang telah merespon kami memberikan pelayanan terbaik buat masyarakat KBB” katanya.

Terbentuknya mediasi pertemuan ini berawal dari kondisi pasien Alfan seorang anak penderita Hidrosefalus yang mendapatkan perawatan di RSUD Cililin, namun salah satu petugas menyampaikan bahwa Alfan ini dianggap pasien artis karena pernah dikunjungi oleh Wakil Bupati KBB Hengki Kurniawan, selanjutnya tidak terlalu direspon baik oleh petugas tersebut.

Sehingga hal ini membuat pihak keluarga tersinggung dan melaporkan kepada organisasi sosial J-Balad. Sehingga J-Balad pun mengirim surat terbuka untuk Wakil Bupati KBB. Surat itu, meminta mediasi untuk mencari titik temu dalam memberikan pelayanan terbaik.

Baca Juga,  DPRD Setujui Hutang Pemda KBB Rp323 Milliar, Ini Penjelasan Bupati

Dengan kasus semacamnya ini, Arie berharap tidak akan terulang lagi seperti kondisi yang terjadi oleh Dinas Sosial KBB yang tidak respon dengan berbagai kebutuhan masyarakat yang membutuhkan kursi roda hingga sang pasien itu meninggal dunia.

“Untuk Dinsos KBB harusnya banyak turun ke lapangan melihat kondisi masyarakat kurang mampu dan yang sangat membutuhkan bantuan. Banyaknya warga disabilitas membutuhkan alat bantu seperti kursi roda dan alat bantu disabilitas lainnya dari beberapa orang yang pernah kami kunjungi, dan kami punya data yang minta difasilitasi oleh dinas sosial hingga akhirnya meninggal dunia dengan pengharapan tak kunjung datang,” tambahnya.

(Adn)

Komentar

News Feed