oleh

100 Hari Kerja, DP2KBP3A KBB Siapkan 5 Program Unggulanya

Ngamprah, BANGBARA.COM – Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang dipimpin oleh pasangan Bupati terpilih Aa Umbara Sutisna dan Hengki Kurniawan menjadi ekstra kerja keras yang menitik Beratkan pada program terdekat yaitu 100 hari kerja kepemimpinan ini yang menjadi tolak ukurnya, sehingga menangani keseriusan ini beberapa SKPD tidak bisa lagi duduk santai agar semua program berjalan dengan baik.

Pemerintahan Bandung Barat Dengan Visi ‘AKUR’ (Aspiratif, Kreatif, Unggul dan Religius) dan memiliki Jargon Lumpaaat itu, menjadi motivasi bagi para kabinet SKPD di pemerintahan KBB. Salah satunya adalah Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) dalam beberapa terakhir ikut membuktikan kinerjanya.

Asep Wahyu Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) dalam beberapa waktu ini sudah menunjukan program yang dipersiapkanya dalam mendukung 100 hari kerja Bupati 5 langkah program yang sudah dan akan dikerjakan oleh DP2KBP3A.

Kelimanya menjadi program pendukung pada jargon Lumpaaat diantaranya, 1. Public Information Campaign motivator KB pria berbasis Film DP2KBP3A. 2. Sekolah Siaga Kependudukan (SSK), 3. Peresmian 17 kampung KB, 4. Ipa test Kangker Payudara, Sadari (Periksa Payudara Sendiri), dan 5. Grand Design untuk rencana besar yang disusun untuk sekian puluh tahun kedepan pembangunan di Bandung Barat.

“Kami memerlukan dukungan dan keterlibatan seluruh stakeholder untuk menyukseskan program Kampung KB di Bandung Barat. Keberadaan Kampung KB tidak terlepas semua organisasi yang ada untuk terlibat aktif bersama-sama dalam melaksanakan program KB dalam menyukseskan program Kampung KB,” ungkap Asep diruangkan kerjanya. Jumat, (12/10/18).

Asep memaparkan programnya secara singkat, dari Sekolah Siaga Kependudukan (SSK), pihaknya ingin memberikan pemahaman kepada anak-anak diusia 15-19 yang akan memasuki fase berkeluarga, bagi masyarakat yang masuk pada tahapan pernikahan, diharuskan memahami lebih dahulu apa saja siaga kependudukan itu, yang diantaranya, apa inti dari nikah? harus umur berapa saat menikah? Harus dengan siapa? Jika sudah menikah ingin punya anak berapa? Anaknya kelak akan jadi apa? Lalu pembiayaan anak harus dari mana?

“beberapa pengertian tentang menikah harus kita berikan pembinaanya, sehingga mereka bisa belajar mengolah masa depan diwaktu usia muda, Begitupun saat memutuskan menikahnya ditahun berapa? dari mulai usia 21 – 22 – 23 bisa melakukan Penangguhan Usia Perkawinan (PUP), itu bermanfaat, ketika pasangan usia ini pendek masa reproduksinya, kalau nikah diusia 15 hingga di push ke usia 50, berarti ada 35 tahun masa kesuburannya. Untuk itu perlu adanya PUP” paparnya.

Dalam pengertianya, jika 5 tahun 1 anak berarti selama 35 tahun ada 7, jika menikahnya ditunda, digeserkan pada usia 25 idealnya pria, dan wanita pada 21 tahun, maka usia reproduksinya akan pendek, sehingga program tersebut dapat tertata secara alamiah.

“Konsepnya diatas usia 35 tahun sudah tidak boleh melahirkan lagi dikarenakan rentan pada organ reproduksinya sangat beresiko, jadi kalau usia 35 ditarik ke 25 cuman ada 10 tahun maka rentang 3 tahun 1 anak, kalau dalam 10 tahun itu cuman 3 apalagi kalo rentang 5 tahun maka konsep 2 anak itu bukan harus dipaksa harus 2 anak tetapi menggunakan metodelogi sendiri melalui SSK itu nyeplit dari mata pelajaran Biologi Geografi, Gurunya sudah dilatih, dan dalam waktu dekat ini akan segera launching di KBB” ucapnya.

Pihaknya menganalisa dengan terlalu banyaknya penduduk yang tidak diantisipasi, makan akan menjadi beberapa hal, mungkin sampah akan jadi lebih banyak, dan akibatnya pencemaran lingkungan. Jika butuh perumahan, maka lahan pertanian akan semakin sempit, berarti makanan akan di exspor dari luar, karena tanah yang ada habis karena terlalu banyak orang yang ingin memiliki rumah. Begitupun pada kebutuhan pakaian, Belum lagi dari kendaraan, macet macet akan menjadi masalah sosial.

Dengan penataan pengendalian penduduk, diharapkan menjadi kesadaran masyarakat saat menikah tidak lebih dari 2 anak itu harus tertanam pada saat disekolah.
Pemerintah pun menyediakan cara dan layananya secara gratis seperti Kondom, MOP, MOW, Tubektomi, Pil KB, suntik, atau kebutuhan lainya, yang disediakan di seluruh puskesmas yang ada di KBB.

“Sosialisasi ini dilakukan disamping di sekolah-sekolah, SSK pun ada pada kelompok Pramuka yang tergabung menjadi Satuan Kencana (SAKA), yang tugasnya seperti SSK. Tetapi di jaringan jajaran Pramuka sekolah selain OSIS, masuk pada kelompok Pusat Informasi Konsuling Remaja (PIKR), kalau teman-temannya mengeluh bisa Konsultasi juga menyelesaikan masalah disana.
DP2KBP3A baru memiliki 4 pusat PIKR di KBB, salah satu nya di Batujajar yang sudah siap melayani dengan mentor mentor yang sudah terlatih, Untuk Remaja anak Sekolah” jelasnya.

BP2KBP3A terus bekerja keras dalam mengatasi persoalan kependudukan di KBB baik dari sisi jumlah dan kualitas butuh Grand Design untuk rencana besar yang disusun untuk sekian puluh tahun kedepan pembangunan KBB. Pihaknya akan bekerjasama dengan pihak ketiga kualisi kependudukan jawabarat untuk membuat Grand Design kependudukan Kabupaten Bandung Barat untuk 2018 sampai 2038 sehingga dapat dilihat untuk 20 tahun kedepan akan seperti apa jumlah penduduknya, rata-rata berapa, rata-rata anak, manusia dalam keluarga, persalinan, kematian bayi, laju kepadatan penduduk berapa, dan semua data kependudukan akan tertata dengan baik.

Selain dari program-program yang sudah dipersiapkan untuk mendukung 100 hari kerja Pasangan Bupati Akur ini, dukungan untuk kedisiplinan dalam bekerja serta jargon Lumpaaat ini mendapatkan sambutan positif dari DP2KBP3A salah satunya dari Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Euis Jamilah yang sangat mendukung dengan mengawali untuk disiplin diri sendiri terlebih dahulu.

“Dengan jargon Lumpaaat ini, kita harus benar-benar Lumpaat dari segala hal dan yang terutama adalah disiplin diri dulu. Dalam artian karena kami ASN, maka wujudkan disiplin dalam kerja juga sebagai ASN. Termasuk perilaku kita juga harus disiplin sebagai ASN karena jika kita tidak disiplin akan berdampak pada Pimpinan kita yaitu pak Haji Aa Umbara itu sendiri. Untuk itu dalam mendukung keperintahan Akur dalam 100 hari kerja ini, saya siap disiplin diri sendiri dulu dalam segala hal” Papar Euis dikantornya, Rabu, (10/9/18). (Adv)

 

1121total visits,3visits today

Komentar

News Feed